"Hhhhhhaaaaaaaahhhhhhhh....fiuuuuuuuuuhhhhhh...." kuhela nafasku yang berat untuk kesekian kalinya. Entah sudah berapa lama ku duduk terpaku di depan komputerku. Tak terasa sudah puluhan batang rokok kubakar tanpa henti. Kuhisap dalam-dalam dan kuhembuskan lagi. Berulang-ulang.
Rasa jenuh, letih, lelah menyelimutiku malam itu. Gundah, mungkin itu tepatnya yang kurasakan. Ku duduk di situ, tapi tak benar-benar di situ. Pikiranku mengembara entah kemana. Dan serasa tak ingin pulang.
Sudah hampir setahun diriku berkecimpung di dunia yang sama sekali baru untukku. Bidang kerja yang kugeluti sekarang memang sangat membutuhkan kecepatan, ketepatan, akurasi, dan nalar yang cukup tinggi. Perlu berpikir dan bertindak cepat. Serta perlu ketahanan fisik dan mental yang tinggi.
Belakangan, entah apa yang berkecamuk di dalam pikiranku. Semua menjadi samar, tidak fokus. Gila, pekerjaanku membuatku serasa robot. Bukan manusia. Dan sadisnya, di saat kutertidur dan bermimpi, yang kulakukan di dalamnya ya aku yang sedang bekerja, tetap bekerja, dan terus bekerja.
Aku benar-benar menenggelamkan diri dalam pekerjaan. *Mungkin ingin melupakan sesuatu yang sulit 'tuk kulupakan*. Hmm sudahlah..*toh Dia juga tak peduli..*
Aahhhh..seharusnya di alam mimpiku, aku bisa bebas mengembara dan mengekspresikan hal yang terliar yang tak mungkin kulakukan di alam nyata. "Sial!" makiku dalam hati.
Ya, aku benar-benar sial. Apes. Tapi, Tuhan masih sayang sama diriku. Dia berikan sedikit musibah agar aku bisa beristirahat :). Dia membuatku terjatuh dari motor pinjaman seorang teman. *Hehehe..sorry ya Mas Taufik :D* Rekanku dari
Republika meminjamkanku motornya karena Dia sedang terburu-buru ke Puncak demi menghadiri sebuah liputan. Berhubung kantornya dekat dengan kantorku, ya aku lah yang 'ditodongnya' untuk menjaga motornya :D (meskipun akhirnya gagal...).
Sore itu, dengan pikiran yang masih belum pulang mengembara, kupacu motor dengan kecepatan tinggi (sekitar 80km/jam). Seingatku aku sedang berada di tikungan di dekat kantor. Tiba-tiba, aku sudah mendapati diriku terbaring di aspal dengan darah berlumuran di tangan, leher, dagu dan pipiku. "Astaghifrullahal'adzim," cuma itu yang bisa kusebut kala itu.
Dengan sisa tenaga, kuangkat tanganku untuk meminta pertolongan orang. Ternyata beberapa detik yang lalu, aku baru saja 'bercinta' dengan aspal dan trotoar. Gila, ciumannya dahsyat banget... :)) Sungguh, daku tak ingat sebabnya kenapa motor bisa guling-gulingan hingga naik ke trotoar pembatas jalan. Entah disenggol motor dari belakang juga, atau emang dakunya saja yang meleng. Entahlah...
Dengan bantuan orang-orang tersebut, akhirnya ku sampai juga di kantor. Tiba-tiba, kaki ini serasa tak kuat lagi menopang tubuh. Ku pun terjerembab mencium aspal, lagi. Sialnya, di saat seperti itu pun, aku masih mengingat kerjaan. Aku belum nulis berita. Belum lagi motor yang kuhancurkan itu, dan laptop review-an yang ada di tasku. "Mati aku!" begitu pikirku saat itu.
Akhirnya ku pun singgah sejenak di rumah sakit terdekat setelah kawan-kawan kantor menggotongku kesana. "Alhamdulillah, nggak ada yang patah," pikirku setelah menerima hasil rontgen. Cuma bahuku rada geser sedikit gara-gara nahan motor biar nggak mental. "Tulangnya nggak patah kok, cuma Sinus kamu saja yang sudah besar tuh," kata Dokter. Waduh, kok malah Sinus? Masa' bodo' ah..
Setibanya di rumah, seperti biasa Mamiku tercinta selalu histeris mendapati anaknya yang paling bandel ini tiba dengan keadaan yang rada memilukan. Tapi, itu tidak berlangsung lama kok. "Alah sudah biasa kok," mungkin begitu pikirnya. *hehehe* Mungkin Dia sudah bosan melihat anaknya pulang dengan keadaan seperti itu. Sorry Ma..hahahaha....
Cuti seminggu pun kudapatkan. Kawan pun silih berganti datang menjengukku. Telpon dan SMS pun tak henti-hentinya berdering. Dan yang pasti, akhirnya kubisa juga berlama-lama di kamarku yang kayak kapal pecah ini, meski akhirnya cuma bertahan dua hari saja. Lalu sisanya? Dunia masih terlalu indah bila hanya dinikmati dari kamarku saja. Coffee Shop di bilangan Sarinah sudah bisa mencium bau badanku tak lama setelah kejadian itu. Kawan-kawan kesayangan sudah bisa mencela diriku lagi. Wajah mereka terlihat puas sekali melihat keadaanku. Ini pertama kalinya mereka bisa mencela tanpa mendapatkan balasan yang lebih mengerikan dariku. Hihihi...
"Dasar anak badung!" maki Mami tercinta setelah mendapatiku keluyuran dengan perban masih melekat di wajah dan leher. Tapi, ya seperti biasa. Ocehannya hanya beberapa menit saja. Dia memang paling mengerti anaknya yang badung ini kok. Dia tahu anaknya ini sudah seharusnya bisa menikmati hidup. Lagipula, Dia tahu kok banyak orang-orang di sekelilingku yang akan menjagaku. Ada banyak sobatku tercinta. Bahkan, Dia yang jauh di sana pun, sampai bela-belain datang untuk menjengukku. Duh senangnya.. :)
Ya, Tuhan pun marah melihatku seperti itu. Dia pun ingin aku menikmati hidup. Dengan lembaran baru ini, aku akan lebih menghargai lagi segala pemberiannya. Mencoba meresapi esensi hidup ini. Mungkin Tuhan cuma ingin bilang, "Pekerjaan hanya sebagai pelengkap hidup saja. Kamu bekerja untuk bertahan hidup, tapi bukan menghabiskan hidup untuk bekerja saja."
Ya apa pun itu, apa pun yang akan terjadi selanjutnya, kuikhlaskan semua demi bisa menikmati hidup. Khususnya dengan orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. Toh hidup cuma sekali ini saja kok. Ya, nikmati saja... :)
PS : *Duh capeknya habis keluyuran ke Bandung bareng
Shantiand Akmal. Sempet mampir ke tempat
Bunda Endhoot dan si jangkung
Joan. Tapi sayang nggak dikasih makan. Hiks... Mana si
Qudys Blubuk di is-im-is-in kagak dibales-bales. Huh..syebel... :p *